Senin, 09 Juli 2012

REMBANG & PATI - infoku 33


 Wabup “Jangan Ada Lagi Murid Tak  Sekolah Karena Biaya”
INFOKU, REMBANG- Wakil Bupati Rembang H. Abdul Hafidz dalam sambutanya mengatakan, Pemerintah kabupaten Rembang bersama masyarakat masih mengembangkan dan melanjutkan program 4 pilar pembangunan.
Untuk bidang pendidikan misalnya, jika sebelumnya pendidikan gratis mencakup pendidikan dasar 9 tahun,  mulai dari tingkat SD/MI sampai dengan SMP/Mts. Saat ini sudah dilanjutkan program pendidikan gratis untuk tingkat SMA/MA/ dan SMK melalui subsidi.
    Namun untuk orang tua yang kurang mampu, terutama untuk masuk kelas awal yang membutuhkan biaya banyak. Hal itu disampaikan wakabup dalam acara pengajian umum memperingati Isro, Mi’roj dan haul kyai M. Suyuthi Abdul Fatah ke 7 di desa Sendangmulyo kecamatan Sluke Juma’t (1/06).
     Besarnya biaya pendidikan pada tingkat SMA/MA/SMK, tentunya akan sangat dijangkau bagi orang tua karena keterbatasan faktor ekonomi. Oleh karena itu adanya subsidi dari pemerintah, ini diharapkan tidak ada lagi murid yang tidak dapat melanjutkan sekolah hanya karena tidak memiliki biaya.
     “Para kepala sekolah boleh saja mengejar kualitas dan prestasi sekolah setinggi mungkin.    Tetapi tidak boleh melupakan warga yang tidak mampu,” tegas wabup
Berdasarkan data yang ada 60% penduduk Rembang sebagai petani. Mereka rat-rata mempunyai lahan pertanian kurang dari 1 hektar.  Dengan rata-rata pengahsilan dibawah Rp. 1 juta perbulan, dapat difahami betapa sulitnya orang tua untuk melanjutkan pendidikan anak-anak mereka ke sekolah SMA/MA/SMK.
     Belum lagi beban iuran uang gedung dan beberapa kegiatan tertentu yang menyebabkan beban orang tua semakin bertambah.
     “Pada saat rapat dengan kepalah sekolah SMA/MA/SMK se kabupaten Rembang, saya tegaskan para kepala sekolah jangan lagi memungut dari orang tua, untuk pembangunan pager, gedung,” Tegas wabup
  “Jangan sampai ada anak yang tidak dapat sekolah karena tidak memiliki biaya. Jangan sampai ada rakyat tidak makan karena tidak memiliki uang,” tambah wabup
Anak yang berprestasi dari keluarga yang tidak mampu masih terbuka kesempatan untuk bersekolah di RSBI karena 20% anggaran pendidikan disekolah itu, digratiskan untuk anak yang tidak mampu.
     “Akal-akalan saja kalau seluruh siswa RSBI membayar, karena 20 % anggaran digratiskan untuk siswa yang tidak mampu,” ungkap wabud
     Sarana infrastruktur jalan Sluke 70 % baik selebihnya memang perlu diperbaiki. Peningkatan ekonomi kini semakin membaik mudah-mudahan kesejahteraan yang semakin meningkat ini, akan semakin menggugah kesadaran para orang tua untuk terus melanjutkan anak-anaknya.
     “Bidang pelayanan kesehatan gratis tetap kita upayakan, untuk melayani berobat gratis bagi masyarakat yang kurang mampu, bahkan untuk ibu yang melahirkan kini sudah ada Jampersal gratis,” katanya.(Sugiarti)
Foto Wabup Rembang saat memberi sambutan pada pengajian

PILKADA Ulang Partisipasi Masyarakat Turun
INFOKU, PATI- Dapat dipastikan partisipasi masyarakat dalam Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pilkada Pati menurun dari hajatan demokrasi serupa tahun lalu.
Kendati belum ada data resmi berkait hal tersebut namun penurunan partisipasi masyarakat nampaknya terjadi penurunan.
Pengamat politik Alwi Alaydrus mengatakan, PSU Pilkada Pati yang sempat diterpa isu kegagalan tidak berdampak serius bagi masyarakat di tingkat bawah. Warga Pati tetap antusias mendatangi tempat pemungutan suara (TPS).
Hanya, menurutnya, jumlah mereka yang hadir di TPS diperkirakan tidak sebanyak Pilkada 2011 sebelum akhirnya hasilnya dibatalkan Mahkamah Konstitusi (MK). Sesuai prediksinya, partisipasi pemilih pada PSU yang berlangsung 16 Juni lalu tidak sampai menembus 70% dari total pemilih 1.019.280 orang.
Pada Pilkada 2011, masyarakat yang menggunakan hak pilihnya mencapai 737.742 pemilih (72,37%).
Jumlah tersebut terbesar dalam sejarah Pilkada di Pati. Mengingat pada Pilkada 2006 tingkat partisipasi masyarakat hanya 44,30 % karena masyarakat yang menggunakan hak pilihnya hanya 421.700 orang dari total 951.840 pemilih.
"Masyarakat sudah jenuh dengan politik. Proses yang demikian panjang membuat banyak orang acuh tak acuh dengan pilkada," ujarnya minggu lalu.
Lebih lanjut dia menjelaskan, dari pengalaman proses demokrasi yang ada di Pati, masyarakat selalu menjadi obyek politik. Hal tersebut disadari betul sehingga pada PSU Pilkada kali ini tidak sedikit orang yang enggan diperalat.  
"Kesadaran berpolitik masyarakat sudah semakin baik. Mereka tidak ingin lagi menjadi objek yang hanya menguntungkan para spekulan politik," lanjutnya.
Spekulan politik menjadi bagian penting dalam proses hajatan demokrasi di Pati. Peran mereka cukup berpengaruh di tengah situasi politik transaksional.
       Kehadiran warga ke TPS tidak sekadar untuk menggunakan haknya, tetapi sekaligus sebagai sarana mendatangkan keuntungan. Karenanya, menurut Alwi, proses demokrasi di Pati terindikasi kuat beraroma politik uang.(Imam)
 klik gambar >>baca model TABLOID