Tampilkan postingan dengan label BLORA - Upload Agung B Rustanto - Januari 2011. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BLORA - Upload Agung B Rustanto - Januari 2011. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Januari 2011

INFOKU edisi 4 - TOPIK UTAMA - PAD Blora Gagal


Topik Utama
Target PAD Gagal, Siapa Yang Salah
INFOKU, BLORA- Kegiatan ekonomi yang bervariasi, mendorong setiap daerah Kabupaten atau Kota untuk mengembangkan potensi ekonominya.
Oleh karena itu pembangunan daerah dilaksanakan secara terpadu dan serasi serta diarahkan agar pembangunan yang berlangsung disetiap daerah benar-benar sesuai dengan prioritas dan potensi daerah.
Pendapatan Daerah merupakan hak Pemerintah Daerah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih dan merupakan perkiraan yang terukur secara rasional yang dapat dicapai untuk setiap sumber pendapatan.
Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, komponen Pendapatan Daerah terdiri dari:Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Perimbangan, dan Lain-Lain Pendapatan Yang Sah.
Adapun jenis PAD terdiri dari: Pajak Daerah, Retribusi Daerah, Hasil Perusahaan Milik Daerah dan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan, serta Lain-Lain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah.
Sedangkan jenis Dana Perimbangan terdiri dari Bagi Hasil Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), dan Pajak Penghasilan (PPh) Perorangan;
Tidak bisa dipungkiri Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebagai salah satu penerimaan daerah mencerminkan tingkat kemandirian daerah.
Sehingga semakin besar PAD maka menunjukkan bahwa daerah itu mampu melaksanakan desentralisasi fiskal dan ketergantungan terhadap pemerintah pusat berkurang.
PAD juga dapat diartikan sebagai penerimaan dari somber-sumber dalam wilayahnya sendiri, yang dipungut berdasarkan Undang-undang yang berlaku.
Atau dengan kata lain Pendapatan Aslli Daerah (PAD) adalah pendapatan asli daerah sendiri yang terdiri dari hasil pajak, retribusi daerah, pendapatan dari SKPD, BUMD dan lain-lain.
Seperti diketahui pada tahun 2010 target PAD Blora sebesar Rp.56,5 miliar akan tetapi sampai awal Desember 2010 baru mencapai Rp.40,968 miliar Hal itu diungkapkan Kepala DPPKAD Komang G Irawadi.
Dia menjelaskan realisasi penerimaan PAD tahun 2010 diperkirakan tidak bisa mencapai target yang ditetapkan sebesar Rp56,5 miliar.
"Laporan dari SKPD belum final Namun,Kami prediksi hingga akhir bulan Desember 2010, angka maksimalnya sebesar Rp46 miliar," katanya Senin (3/12) diruang kerjanya.
Tidak terpenuhinya target PAD tersebut diantaranya disebabkan beberapa komponen yang tidak terpenuhi. Seperti cadangan Silva, pengembalian kegiatan proyek dan kenaikan retribusi yang tidak terlaksana.
Sementara Kepala bagian Perekonomian Setda Blora, Rudatiningsih ketika dikonfirmasi mengatakan pendapatan BUMD yakni BPH, Bank Pasar, BKK dan Wira Usaha dapat dikatakan sudah memenuhi target yang dibebankan.
Hanya BUMD BPE (Blora Patra Energi) yang telah dikucurkan dana sebesar Rp. 1 Miliar belum memperoleh hasil tersebut.
“Kucuran dana dari Pemkab pada tahun 2008 dan 2009 sebesar masing-masing Rp. 500 juta yakni total Rp. 1 miliar, belum memperoleh laba karena terbentur perijinan,” jelasnya.
Dari data yang diperoleh Infoku, BUMD yang dapat menyumbang PAD berdasar prosentase dari modal pemkab yang telah dikucurkan ternyata Bank Pasar hanya menyetor sebanyak Rp.121.434.758,- (atau 5,91 persen dari Modal yang dikucurkan Pemkab).
Sedang secara global, sumber PAD Blora terbesar masih dari pajak daerah dan dua rumah sakit di Blora dan Cepu, yaitu RSU Blora menyumbangkan PAD sebesar Rp8,7 miliar dan RSU Cepu Rp7,5 miliar.(Agung)



Fokus Samping
Tejo Prabowo Ketua Karang Taruna Kabupaten Blora
Kiat Meningkatkan Pendapatan Daerah
Tahun 2011, target PAD Blora naik menjadi Rp58,4 miliar, beberapa kalangan optimistis tercapai, karena masih banyak potensi PAD yang bisa dioptimalkan.
Beberapa strategi untuk mencapai target tersebut, Pemkab Blora telah menerjunkan tim pengkaji potensi PAD dengan melibatkan Bappeda dan Inspektorat.
Lain halnya dengan Tejo Prabowo ketua Karang Taruna Kabupaten Blora justru memberi kiat khusus untuk mencapai target PAD tahun 2011 diantaranya:
A. Menetapkan sumber pendapatan daerah unggulan yang bersifat elastis terhadap perkembangan basis pungutannya dan less distortive terhadap perekonomian. Karena PKB dan BBN-KB akan berkurang, meskipun kontribusinya besar maka perlu dilakukan optimalisasi pajak lain, yakni Pajak Hotel dan Pajak Restoran, serta pengupayaan pemungutan pajak atas sewa ruang tak hanya di hotel.
B. Optimalisasi pajak dan retribusi daerah melalui langkah-langkah intesifikasi dan ekstensifikasi, yakni :
1) Intensifikasi pajak dan retribusi daerah terutama ditujukan untuk meningkatkan kepatuhan (compliance) dan memperkuat basis pajak/retribusi yang ada. Secara umum, proses ini meliputi:
2) Penyederhanaan dan modernisasi (komputerisasi atau elektronisasi) sistem perpajakan dan retribusi daerah seperti electronic road pricing atau elektronisasi transaksi-transaksi di hotel untuk meningkatkan compliance, menurunkan administrative dan compliance cost, serta mengurangi kontak langsung wajib pajak/retribusi dengan aparat.
3) Penyempurnaan landasan hukum serta law enforcement bagi pengenaan pajak dan retribusi;
4) Sosialisasi dan pemberian penyuluhan yang memadai kepada masyarakat mengenai ketentuan pajak dan retribusi daerah.
5) Peningkatan pengawasan terhadap pelaksanaan pemungutan pendapatan daerah.
6) Peningkatan koordinasi dan kerja sama antar unit satuan kerja terkait.
7) Peningkatan kualitas aparat pajak/retribusi daerah.
a) Ekstensifikasi pajak dan retribusi daerah terutama ditujukan untuk memperluas basis pajak/retribusi. Proses ini meliputi.
Updating data basis pajak daerah serta optimalisasi pemanfaatan data perpajakan yang bersangkutan,Pengkajian penerapan jenis retribusi baru, Optimalisasi penyerapan penerimaan dari basis pajak PBB yang sewaktu-waktu akan dikedaerahkan.
b) Menciptakan pendapatan daerah yang bersifat efisien (netral) dengan meminimalisir terjadinya efek distortif dari pengenaan pajak atau retribusi daerah terhadap investasi dan perekonomian keseluruhan. Upaya ini dapat dilakukan melalui , Pengkajian cost-benefit dari setiap jenis pungutan baru yang akan diterapkan, Pengkajian ulang atau evaluasi berkala atas dampak ekonomi dari setiap pungutan yang ada, Penghapusan beberapa jenis pungutan daerah yang terlalu bersifat distortif bagi perekonomian, Mendesain ulang sistem tarif maupun administratif dari beberapa pungutan sehingga lebih efisien secara ekonomi dan efektif.
c) Meningkatkan kontribusi BUMD dengan upaya pengelolaan BUMD secara efisien dan efektif, melalui perbaikan manajemen, pembentukan subholding baru dan kemungkinan penciptaan Holding Company dan peningkatan profesionalisme BUMD, serta memperkuat permodalan BUMD.
d) Menghapuskan retribusi yang memberatkan masyarakat kecil, namun tidak seimbang antara besarnya upaya untuk memungut dengan manfaat retribusi. (Agung)
 klik gambar ===> baca model TABLOID

INFOKU edisi 4 - G A G A S A N


De­sem­ber, Ja­ngan Ha­nya Pe­ra­ya­an
De­sem­ber, se­buah akhir me­nu­ju awal. Ba­nyak mo­men­tum pen­ting ter­ja­di pa­da De­sem­ber, na­mun se­mua se­o­lah ha­nya di­pe­ri­ngati se­ba­gai se­buah se­re­mo­ni­al be­la­ka tan­pa meng­in­dah­kan mak­na dan tu­ju­an­nya.
Itu pun ha­nya di­pe­ri­ngati oleh be­be­ra­pa ka­lang­an sa­ja. Ada be­be­ra­pa mo­men­tum yang pa­tut men­da­pat­kan per­ha­ti­an le­bih da­ri ber­ba­gai pi­hak pa­da bu­lan De­sem­ber.
Per­ta­ma, pa­da pe­kan per­ta­ma bu­lan ini ter­da­pat per­ingat­an Ha­ri AIDS Se­du­nia, se­buah mo­men­tum yang di­ra­ya­kan oleh se­mua war­ga di se­lu­ruh ja­gat de­mi meng­ingat­kan ke­pa­da se­mua pi­hak ten­tang pe­nya­kit yang be­lum ada obat­nya sam­pai sa­at ini. Pa­da 2 De­sem­ber ber­ba­gai ke­gi­at­an yang bia­sa di­la­ku­kan ha­nya so­sia­li­sa­si ten­tang ba­haya AIDS, ca­ra pen­ce­gah­an, sam­pai per­la­ku­an ter­ha­dap pen­de­ri­ta.
Ke­gi­at­an-ke­gi­at­an ter­se­but bia­sa di­la­ku­kan oleh pa­ra ak­ti­vis ke­ma­nu­sia­an. Me­re­ka me­nge­na­kan pi­ta me­rah dan me­nyo­sia­li­sa­si­kan ber­ba­gai pe­san me­la­lui ba­nyak me­dia, tu­run ke ja­lan, tem­pat-tem­pat umum mau­pun me­la­lui me­dia mas­sa.
Na­mun, se­te­lah ha­ri ter­se­but ber­ak­hir se­o­lah ti­dak ada la­gi yang mem­be­ri­kan per­ha­ti­an, ti­dak ada yang ta­hu pu­la sam­pai se­ka­rang apa­kah ri­set ten­tang obat HIV/AIDS ma­sih te­rus di­la­ku­kan. Se­ba­gi­an be­sar ma­sya­ra­kat ha­nya ta­hu per­ingat­an Ha­ri AIDS Se­du­nia pa­da tang­gal ter­se­but.
Ke­dua, 9 De­sem­ber di­pe­ri­ngati se­ba­gai Ha­ri An­ti­ko­rup­si In­ter­na­sio­nal. Ini per­ingat­an yang re­le­van de­ngan kon­di­si bang­sa dan ne­ga­ra ki­ta sa­at ini. Ko­rup­si yang ting­gi di In­do­ne­sia me­nun­tut ber­ba­gai pi­hak mem­be­ri­kan per­ha­ti­an le­bih ter­ha­dap usa­ha pem­be­ran­tas­an ko­rup­si.
Esen­si
Mo­men­tum ini bah­kan di­ja­di­kan ajang ke­ku­at­an opo­si­si un­tuk meng­hu­jat kon­di­si pe­me­rin­tah yang ka­rut ma­rut aki­bat ko­rup­si. Ten­tu sa­ja ini di­la­ku­kan un­tuk men­da­pat­kan sim­pa­ti ma­sya­ra­kat yang te­lah ber­ku­rang ke­per­ca­ya­an ter­ha­dap pe­me­rin­tah se­ka­rang.
Ke­ti­ga, se­ha­ri se­te­lah Ha­ri An­ti­ko­rup­si Se­du­nia me­ru­pa­kan Ha­ri Hak Asa­si Ma­nu­sia (HAM) In­ter­na­sio­nal. Pa­da 10 De­sem­ber 1949 umat ma­nu­sia se­ca­ra uni­ver­sal men­de­kla­ra­si­kan HAM. Dek­la­ra­si ter­se­but me­ru­pa­kan pro­duk ter­ba­ik ma­sya­ra­kat du­nia un­tuk me­lin­dungi har­kat ke­ma­nu­sia­an.
Se­men­jak itu ke­be­bas­an HAM su­dah di­sua­ra­kan di se­lu­ruk pe­lo­sok ne­ga­ra di du­nia, na­mun ha­nya da­lam se­lang sa­tu ha­ri se­te­lah per­ingat­an, ma­sih ba­nyak pen­du­duk di du­nia yang be­lum me­ra­sakan ke­be­bas­an seu­tuh­nya. Ba­nyak di an­ta­ra pen­du­duk di be­be­ra­pa ne­ga­ra me­ra­sa be­lum men­da­pat­kan hak asa­si yang se­la­yak­nya. Me­re­ka me­ra­sa se­o­lah se­ba­gai bang­sa yang ter­ja­jah.
Keempat, Bagi masyarakat Blora khususnya puncak kegiatan hari Jadi kabupaten Blora yang ke 261.
Disini berbagai kegiatan baik olah raga, kirab, lomba anak sekolah diselenggarakan demi memperingatinya hari lahirnya kabupaten yang berada diperbatasan Jateng dan Jatim ini.
Ke­lima, mo­men­tum lain­nya yang ju­ga di­pe­ri­ngati di bu­lan ini ya­i­tu Ha­ri Ibu. Ma­sya­ra­kat In­do­ne­sia se­tiap tang­gal 22 De­sem­ber mem­per­inga­ti­nya. Ber­ba­gai ke­gi­at­an di­buat se­me­riah mung­kin, ba­ik di se­ko­lah, kan­tor, mau­pun ma­sya­ra­kat umum. Se­akan pa­da ha­ri itu ma­sya­ra­kat mem­be­ri­kan peng­har­ga­an ke­pa­da so­sok ibu yang te­lah me­la­hir­kan, me­ra­wat dan men­di­dik put­ra-put­ri bang­sa.
Ber­ba­gai mo­men­tum ter­se­but te­ra­sa me­riah dan men­da­pat­kan per­ha­ti­an le­bih ha­nya pa­da ha­ri ter­se­but. Se­te­lah ber­gan­ti ha­ri se­o­lah ma­sya­ra­kat su­dah ti­dak meng­hi­rau­kan­nya. Per­ingat­an de­mi per­ingat­an pa­da bu­lan De­sem­ber la­yak­nya se­buah aca­ra se­re­mo­ni­al yang wa­jib di­ra­ya­kan ti­ap ta­hun.
Se­buah ca­tat­an pen­ting yang pa­tut men­ja­di per­ha­ti­an pe­me­rin­tah, ak­ti­vis dan ma­sya­ra­kat pa­da umum­nya, agar ti­dak ha­nya me­mak­nai se­buah mo­men­tum de­ngan pe­ra­ya­an se­ma­ta, ta­pi le­bih ke­pa­da esen­si dan tu­ju­an yang hen­dak di­ca­pai de­mi per­ba­ik­an ma­sa de­pan.
Se­la­mat mem­bu­ka lem­bar­an ba­ru pa­da ta­hun 2011. Seperti yang diinginkan Bupati Blora “Ojo Wedi Rekoso, Ayo Podo Mbangun Blora”. (Penulis Drs Ec. Agung Budi Rustanto- Pimpred tabloid Infoku)



Ber­ta­ni Me­nu­ju Swa­sem­ba­da Pa­ngan
Be­be­ra­pa ha­ri ter­akhir ini ma­sya­ra­kat ter­be­ba­ni oleh har­ga-har­ga ke­bu­tuh­an po­kok yang na­ik se­ca­ra dras­tis.
Har­ga ke­bu­tuh­an po­kok yang meng­alami ke­na­ik­an ter­se­but di an­ta­ra­nya ada­lah be­ras yang men­ca­pai har­ga Rp 7000/kg, ca­bai yang men­ca­pai Rp 60.000 / Kg. Se­dang­kan gu­la me­mang ti­dak meng­alami ke­na­ik­an ka­re­na har­ga­nya me­mang su­dah cu­kup ting­gi ya­i­tu Rp 10.000/kg.
Ke­na­ik­an ber­ba­gai har­ga ke­bu­tuh­an po­kok ter­se­but se­ma­kin me­nam­bah be­ban hi­dup ma­sya­ra­kat ki­ta da­lam upa­ya me­me­nuhi ke­bu­tuh­an hi­dup yang me­mang te­ra­sa su­lit akhir-akhir ini. Dan yang cu­kup me­ra­sakan dam­pak ke­na­ik­an har­ga-har­ga ter­se­but pas­ti ma­sya­ra­kat me­ne­ngah ke ba­wah. Hal ini da­pat ber­aki­bat ter­ja­di­nya frus­ta­si so­si­al da­lam ma­sya­ra­kat ki­ta.
Pe­me­rin­tah se­ba­gai pi­hak yang tu­rut ber­tang­gug­ja­wab da­lam me­ngon­trol har­ga ke­bu­tuh­an po­kok se­la­lu ber­alas­an ke­na­ik­an har­ga ter­se­but di­se­bab­kan oleh ga­gal pa­nen aki­bat cua­ca eks­trem. Khu­sus ko­mo­di­tas ca­bai, pe­me­rin­tah me­nga­ta­kan ke­na­ik­an har­ga aki­bat ber­ku­rang­nya pa­so­kan ca­bai da­ri Dae­rah.
Hal ini mem­buk­ti­kan bah­wa sen­tra pro­duk­si ca­bai ki­ta ma­sih sa­ngat ter­ba­tas. Ke­ti­ka sua­tu dae­rah sen­tra ter­ke­na ben­ca­na atau ga­gal pa­nen ma­ka oto­ma­tis ke­bu­tuh­an pa­ngan ki­ta ter­gang­gu yang ber­aki­bat har­ga me­lon­jak.
Gu­na meng­atasi ke­na­ik­an har­ga pe­me­rin­tah me­nam­bah stok be­ras na­sio­nal de­ngan ca­ra yang nor­ma­tif dan ter­ke­san ber­jang­ka pen­dek ya­i­tu de­ngan meng­im­por 250.000 ton be­ras da­ri Viet­nam. Iro­nis me­mang, In­do­ne­sia yang di­ke­nal se­ba­gai ne­ga­ra ag­ra­ris ki­ni tak mam­pu men­cu­kupi ke­bu­tuh­an pa­ngan­nya sen­di­ri. Be­ras dan ca­bai se­ha­rus­nya me­ru­pa­kan ko­mo­di­tas yang me­lim­pah ru­ah di ne­ge­ri ini.
Ma­hal­nya har­ga tak le­pas da­ri ke­ter­ba­tas­an stok dan per­ma­in­an har­ga oleh pa­ra pe­da­gang be­sar. Pe­ta­ni ki­ta be­lum men­ja­di tu­an di ne­ge­ri­nya sen­di­ri. Pe­ta­ni ki­ta sam­pai sa­aat ini ha­nya meng­ha­sil­kan pro­duk tan­pa mam­pu me­ma­in­kan har­ga. Apa­la­gi de­ngan pro­duk­ti­vi­tas yang se­ma­kin me­nu­run je­las me­nye­bab­kan per­ta­ni­an ki­ta se­ma­kin ter­pu­ruk.
Ke­na­pa pro­duk­ti­vi­tas be­ras dan pro­duk per­ta­ni­an ki­ta sa­at ini ti­dak mam­pu men­cu­kupi ke­bu­tuh­an pa­ngan na­sio­nal? Apa­kah fak­tor cua­ca yang akan se­la­lu men­ja­di kam­bing hi­tam? Tam­pak­nya pe­me­rin­tah ha­rus men­ca­ri kon­sep lain da­lam mem­ba­ngun per­ta­ni­an ki­ta.
Me­nu­rut sa­ya ti­dak se­la­ma­nya cua­ca yang mes­ti di­kam­bin­ghi­tam­kan. Ke­mam­pu­an ki­ta mem­pro­duk­si­lah yang me­nu­run. Hal ini di­se­bab­kan—di an­ta­ra­nya—alih fung­si la­han per­ta­ni­an dan me­nu­run­nya mi­nat ma­sya­ra­kat ki­ta ter­jun di du­nia per­ta­ni­an.
Pe­ta­ni ki­ni di­ang­gap pro­fe­si ku­rang mem­be­ri ja­min­an ma­sa de­pan. Ki­ta li­hat ba­nyak anak–anak mu­da de­sa (ter­ma­suk sa­ya) yang eng­gan ter­jun ke bi­dang per­ta­ni­an.
Pro­pet­ani
Pro­fe­si pe­ta­ni ti­dak eli­tis dan ku­rang mem­be­ri ja­min­an ke­lang­sung­an hi­dup. Me­re­ka le­bih ter­ta­rik men­ja­di bu­ruh pab­rik atau ber­ur­ba­ni­sa­si ke ko­ta. Se­dang­kan go­lo­gan anak mu­da yang me­nge­yam pen­di­dik­an per­gu­ru­an ting­gi ti­dak ber­mi­nat me­li­rik per­ta­ni­an. Pa­ra sar­ja­na itu—ter­uta­ma sar­ja­na per­ta­ni­an—le­bih ba­nyak be­ker­ja di sek­tor per­bank­an, ja­sa dan bi­dang lain­nya.
Aki­bat­nya, yang ter­si­sa ada­lah pa­ra pe­ta­ni ki­ta yang ber­pen­di­dik­an ren­dah, ku­rang ino­va­tif dan ga­gap tek­no­lo­gi. Me­re­ka pa­da umum­nya ti­dak me­mi­liki ke­mam­pu­an ma­na­je­men pas­cap­anen. Aki­bat­nya, ke­ti­ka me­re­ka pa­nen, pe­da­gang atau teng­ku­lak yang me­nen­tu­kan har­ga. Me­re­ka ter­pak­sa me­nye­tu­jui har­ga yang mung­kin di ba­wah bia­ya pro­duk­si ka­re­na tak mam­pu me­nyim­pan ha­sil pa­nen le­bih la­ma. Sing­kat­nya pe­ta­ni ki­ta be­lum mam­pu men­ja­di pe­ma­in, jus­tru me­re­ka ada­lah pi­hak yang se­ring di­per­ma­in­kan.
Alih fung­si la­han per­ta­ni­an pro­duk­tif men­ja­di ka­was­an pe­ru­mah­an, per­kan­tor­an dan pu­sat per­be­lan­ja­an ju­ga me­ru­pakn fak­tor yang ki­an me­nu­ruk­an pro­duk­ti­vi­tas per­ta­ni­an ki­ta. Ik­lim usa­ha ta­ni yang ku­rang men­du­kung meng­aki­bat­kan ke­ti­ka pa­ra kon­trak­tor dan peng­usa­ha mem­be­li ta­nah me­re­ka de­ngan har­ga ting­gi me­re­ka pun men­ju­al­nya.
Ka­lau su­dah se­de­mi­ki­an, apa yang mes­ti di­la­ku­kan pe­me­rin­tah? Bu­kan­kah pi­lih­an pro­fe­si ada­lah hak se­tiap war­ga ne­ga­ra dan men­ju­al ta­nah ada­lah ju­ga hak se­tiap pe­mi­lik ta­nah?
Pe­me­rin­tah pu­sat dan dae­rah per­lu meng­ka­ji la­gi dan mem­bu­at kon­sep per­ta­ni­an ber­jang­ka pan­jang me­nu­ju swa­sem­ba­da pa­ngan. Pe­me­rin­tah per­lu mem­be­ri­kan ik­lim usa­ha yang nya­man di bi­dang per­ta­ni­an me­la­lui ke­bi­jak­an yang pro­pet­ani.
De­ngan ik­lim usa­ha yang nya­man me­la­lui ke­bi­jak­an pro­pet­ani di­ha­rap­kan ge­ne­ra­si mu­da ber­mi­nat ter­jun ke sek­tor per­ta­ni­an, se­hing­ga sen­tra per­ta­ni­an ti­dak ha­nya di ti­tik-ti­tik ter­ten­tu, akan te­ta­pi me­nye­bar se­hing­ga pro­duk­ti­vi­tas ki­ta pun me­ning­kat.
Da­lam hal ini pe­me­rin­tah da­pat meng­gan­deng aka­de­mi­si yang ber­kom­pe­ten. De­sa se­ba­gai ujung tom­bak per­ta­ni­an mes­ti di­kem­bang­kan, in­fra­struk­tur mes­ti di­ba­ngun, dan sum­ber da­ya pe­ta­ni ki­ta ha­rus di­ting­kat­kan me­la­lu pe­la­tih­an dan kur­sus-kur­sus.
Ten­tu­nya hal ini bu­kan­lah sua­tu hal yang se­mu­dah meng­ucap­kan­nya dan mem­bu­tuh­kan ang­gar­an yang ti­dak se­di­kit. Na­mun, ti­dak ada sa­lah­nya pe­me­rin­tah meng­alo­ka­si­kan ang­gar­an yang cu­kup un­tuk per­ta­ni­an ki­ta ji­ka je­las kon­sep dan peng­awas­an­nya.
Ke­mau­an po­li­tik pe­me­rin­tah sa­ngat di­per­lu­kan da­lam hal ini. De­ngan ko­mit­men sung­guh-sung­guh bu­kan sua­tu hal yang mus­ta­hil men­ja­di­kan ki­ta kem­ba­li ber­swa­sem­ba­da pa­ngan. - Oleh : Drs Herdiyanto (alumni Untag 1945 Surabaya) kelahiran Kedungtuban  menetap di Tulung Agung Jawa Timur.
 Klik gambar ===> baca model TABLOID

Selasa, 11 Januari 2011

INFOKU edisi 4 - PEMERINTAHAN BLORA


Formasi CPNS Kosong 4 Orang
Hanya 62 Persen ber KTP Blora
INFOKU, BLORA-  Ada empat formasi untuk guru teknologi informasi dan komunikasi (infokom) SMP negeri dalam rekrutmen calon pegawai negeri sipil daerah (CPNSD) Blora tidak terisi karena tidak ada yang mendaftar.
S-1 jurusan teknologi infokom belum banyak dibuka di perguruan tinggi keguruan di Jateng. Yang ada hanya beberapa universitas di Jatim. Dalam pengadaan CPNSD Blora tahun ini dari alokasi 213 formasi, yang terisi 209.
Memang dari Jumlah tersebut sebagian besar diisi warga Blora, yakni sekitar 128 orang atau 62%. Sedangkan sisanya, 38% atau 81
orang adalah warga luar daerah.
Seperti diketahui mereka sebelumnya telah dinyatakan lulus ujian seleksi CPNSD yang diumumkan Selasa (28/12).
‘’Terbanyak warga yang lulus ujian CPNSD Blora adalah warga Blora. Sedangkan warga dari luar Blora ada yang dari Bangkalan Madura. Ada juga yang dari Tasikmalaya Jawa Barat,’’ kata Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Blora, Suwignyo dalammketerangan Persnya, Rabu (29/12).
Para peserta yang dinyatakan lulus ujian seleksi CPNSD dikumpulkan di aula BKD, Rabu (29/12), dalam rangka registrasi kelulusan serta pengarahan pemberkasan. Suwignyo mengatakan pemberkasan guna pengusulan penetapan nomor identitas pegawai (NIP) akan dilaksanakan Senin-Selasa, 3-4 Januari 2011. ‘’Terhitung masa tugas (TMT) 1 Januari 2011. Sedangkan SK-nya kemungkinan besar pada bulan Maret,’’ kata Suwignyo di hadapan peserta pengarahan.
Dari 209 peserta yang lulus seleksi CPNSD Blora 2010, termuda adalah Yudi Rista Purnama. Dia yang mengisi formasi verifikator keuangan D-III tersebut adalah kelahiran 13 Agustus 1990. Sedangkan tertua adalah Sri Wahyuni Ernawati dari formasi perawat. Perempuan tersebut lahir 25 Januari 1976. ‘’Untuk yang dari luar Blora, kami menyakini setelah meminum air dari Blora akan betah tinggal di sini,’’ jelas Suwignyo disambut tawa peserta pengarahan.
Sementara itu dalam pengarahannya, Asisten III Sekretariat Daerah (Setda) Blora, Pramono, mengemukakan para peserta yang
dinyatakan lulus seleksi patut bangga dan bersyukur. Sebab mereka adalah yang terbaik dari tujuh ribu lebih pelamar CPNSD. ‘’Kalian lulus murni berkat kemampuan yang kalian miliki sendiri,’’ Tambahnya.(Agung)


Tunggakan Rp.1,2 Miliar, 
Raskin 57 Ton tidak Bisa diambil
INFOKU, BLORA- Sebanyak 57 Ton Raskin masih Ngangkrak di Dolog belum terdistribusi pada masyarakat miskin di Blora. Ternyata penyebabnya adalah tunggakan pembayaran beras di banyak desa di kabupaten Blora banyak yang belum melunasi beras yang diperuntukan untuk Rumah tangga miskin ini.
Cukup spektuker angka tunggakan beras sampai dengan Desember lalu yakni mencapai angka Rp. 1,2 Miliar yang belum dibayarkan.
Hal ini menunjukan sistem bayar dimuka atau cash and carry dalam penyaluran beras untuk warga miskin (raskin) di Blora belum dilakukan dengan baik.
Permasalahan ini muncul saat rapat monitoring dan evaluasi (monev) raskin di ruang pertemuan sekretariat daerah (setda) Blora, Selasa (21/12). Rapat dihadiri tim monitoring raskin, Bulog, para camat dan sejumlah kepala desa (kades).
Tidak diketahui di mana uang pembelian raskin tersebut nyantol. Hanya para kades diminta menyelesaikan pembayaranya. Tunggakan pembayaran raskin terjadi di sejumlah desa di Blora.
‘’Sebenarnya tidak sulit mendistribusikan raskin sekaligus pembayarannya. Asalkan ada kemauan dan kerja, semuanya akan lancar,’’ kata Asisten II Setda, Gunadi, saat menyampaikan sambutan pembukaan rapat money raskin.
Gunadi juga mengingatkan beberapa kali raskin di Blora telah memakan korban. Beberapa kades diproses hukum lantaran menggelapkan raskin. Mereka pun telah divonis hukuman oleh majelis hakim.
Menurut Gunadi, peristiwa tersebut hendaknya menjadi pengalaman dan pelajaran tersendiri agar  hal yang sama tidak terulang lagi.
‘’Ketika saya menjadi camat Ngawen, beberapa kali dimintai keterangan oleh polisi terkait perkara raskin di beberapa desa di Kecamatan Ngawen,’’ ungkap Gunadi.
Untuk itulah Dia meminta para camat maupun kades menerapkan cara-cara tertentu agar pendistribusian maupun pembayaran raskin lancar. Pengetahuan tentang kondisi masyarakat di desa masing-masing akan memudahkan pelaksanaan tugas.(Agung)


Kecamatan Akan Kebanjiran Uang Pemeliharaan
INFOKU, BLORA- "Kami akan lakukan perbaikan sementara di jalan By Pass Cepu. Dananya berasal dari swadaya para rekanan yang ada di Cepu," Kata Bupati Blora Djoko Nugroho, Kamis (30/12).
Untuk itu Bupati Blora ke 27 ini meminta para rekanan atau kontraktor mengulurkan tangan guna memperbaiki jalan By Pass Cepu yang mengalami kerusakan cukup parah.
Menurut bupati, Pemkab Blora akan memperbaiki jalan tersebut secara permanen tahun depan. Yakni dengan menganggarkan sejumlah dana dalam APBD 2011. Kokok, sapaan akrab Djoko Nugroho mengakui jalan By Pass Cepu kerap rusak meski baru dilakukan perbaikan.
Saat ditanya tentang biaya perbaikan/Pemeliharaan yang selama ini dikelola SKPD DPU Kabupaten atau Bina Marga Propinsi Jateng, Bupati menjawab akan diminta dan dikelola SKPD Kecamatan.
“Biaya Pemeliharaan akan kami alokasikan di tiap kantor kecamatan dimana jalan itu terdapat proyek,” Ungkap Djoko.
Atau dengan kata lain anggaran pemeliharaan proyek sebesar 10 persen nantinya akan dilaksanakan kecamatan setempat untuk pemeliharaan jalan tersebut.
Tentang realisasi proyek jalan yang akan dip[erbaiki, menurut Djoko jika memungkinkan, perbaikan permanen di jalan tersebut dengan cara dicor atau di-hot mix tergantung dana yang ada di APBD.
Meski berstatus jalan kabupaten, namun jalan By Pas Cepu merupakan jalur utama kendaraan umum maupun truk bertonase berat.
Panjang jalan sekitar satu kilometer. Jalan yang menghubungkan terminal bus Cepu dengan jalan provinsi Jateng di jalur Blora-Cepu itu mengalami kerusakan beberapa kali.
Dua tahun lalu Pemkab Blora memperbaiki kerusakan jalan tersebut. Namun tidak lama kemudian jalan itu rusak lagi.
Beberapa kali terjadi kecelakaan. Mulai dari terjatuhnya pengendara sepeda motor hingga terbaliknya truk saat lewat di jalan By Pass Cepu. Lantaran tidak segera diperbaiki lagi, di pertengahan tahun 2010 warga di sekitar jalan By Pass melakukan protes dengan menanam pohon pisang di pinggir jalan.
   "Beberapa waktu lalu jalan By Pas juga diperbaiki namun bersifat sementara. Yakni dengan menutup lubang jalan dengan batu, pasir dan tanah. Namun jalan itu kembali rusak. Meski begitu setiap hari jalan itu tak pernah sepi. Truk, bus dan kendaraan umum tetap lewat di jalan ss karena jalan tersebut satu-satunya akses ke jalur jalan provinsi," ujar Sutaji, salah seorang warga Cepu, Kamis (30/12). 
  Berdasarkan pemantauan, kerusakan di jalan By Pass Cepu di antaranya di tikungan di depan PLN, di pertigaan Nglebok dan di sekitar lapangan golf. Lubang-lubang berukuran besar terlihat menganga dan siap memangsa jika ada pengendara yang jatuh.(Agung)
 klik Gambar ===> baca model TABLOID