Senin, 19 September 2011

INFOKU REDAKSI - edisi 16

Redaksi
Tragedi Pangan Blora dan Indonesia
Memang benar apa yang dikatakan Bupati Blora, saat ditemui Infoku disela-sela pembagian Subsidi Murah Selasa (23/8) di gedung Sasana Bakti.
Bahwa saat ini petani Blora menangis karena gagal panen tahun tanam lalu. Sehingga perlu bila Pemkab Blora untuk dapat memperhatikan mereka yang saat ini, boleh dibilang krisis pangan. 
Pertanyaan penulis adalah Apa memang ada krisis pangan yang layak dikategorikan sebagai kejahatan melawan kemanusiaan (crime againt humanity)?
Atau benarkah krisis pangan hanya semata-mata berhubungan dengan faktor alam? Demikian gugatan sekelompok peneliti dalam diskusi terbatas yang penulis ikuti.
Kita kembali ke yang lebih luas dari Blora dengan membaca fenomena di negara ini sangat memprihatinkan.
Terbukti stigma sebagai masyarakat yang makmur sumber daya pangan seperti beras, akhirnya bergeser menjadi masyarakat bermental pengemis, atau setidaknya menunggu jiwa karitas (kebaikan hati) negara lain.
Tentu kita belum mengidap amnesia dengan kasus bargaining penukaran beras ketan dengan pesawat, dan kebijakan impor beras. Yang demikian ini menunjukkan, kita gampang mengidap krisis pangan.
Sebagai bangsa dengan sumber daya alam seperti luas areal persawahan atau perkebunan yang tidak sedikit di Jatim ini, seharusnya kita malu sama Tuhan, karena karunia Tuhan yang demikian besar belum maksimal difungsikan dan berdayakan.
Bahkan tak sedikit yang ditelantarkan sebagai tanah mati yang hanya dikapitalismekan oleh kalangan petani berdasi.. Sumber-sumber enerji yang seharusnya bisa memproduksi pangan berlimpah, yang dimatikan oleh petani berdasi yang membisniskan tanahnya, layak disebut akar kriminogen kejahatan bidang pangan publik.
Kapitalisme tanah dengan membiarkan, menelantarkan, memarkirkannya demi mengeruk keuntungan ekonomi pribadi merupakan bagian dari bentuk reduksi fungsional tanah, yang semestinya andalan pertanian dan bisa dijadikan kekuatan penyangga kebutuhan pangan masyarakat.
Ironisnya, pihak yang suka memarkir dan mereduksi fungsi tanah pertanian adalah kalangan elit kekuasaan, di samping pengembang (pengusaha). Mereka beranggapan, tanah merupakan tabungan berharga, yang jika diparkir beberapa bulan atau tahun, keuntungan ekonominya berlipat ganda.
Mereka tak ingin tanahnya dijadikan lahan pertanian, pasalnya fungsi tanah demikian dikalkulasi jauh dari menguntungkan.
Kita harusnya malu dengan negara lain yang area tanah pertaniannya sedikit seperti Jepang dan Thailand, namun bisa menyulapnya menjadi lahan subur yang bisa diandalkan jadi sumber daya pangan jangka pendek maupun panjang.
Jepang misalnya, bisa menyulap wilayah Hiroshima dan Nagasaki yang semula area beracun akibat bom atom yang dijatuhkan sekutu, menjadi wilayah pertanian yang subur yang diandalkan sebagai penopang kebutuhan pangan masyarakat.
Jepang bisa membangun kawasan subur pertanian itu tak serta merta buah dari langit, namun ada kolaborasi reformasi mentalitas antara masyarakat dengan pejabat di daerah untuk menempatkan misi agraris berbasis populis bisa terwujud dengan memanfaatkan lahan-lahan tidak subur, beracun, dan mati.
Mentalitas seperti itulah yang tidak dimiliki masyarakat kita, khususnya kalangan elitnya. Elit kita bisa mempunyai cadangan pangan atau tidak pernah mengalami krisis pangan, sementara masyarakat kecil, khususnya petani penggarap, yang hidup berlepotan lumpur di sawah, justru merana hidup dalam kesulitan pangan, kekurangan gizi, dan kemiskinan.
Elit kita hanya sibuk berburu dan mengoleksi tanah, termasuk lahan pertanian sebanyak-banyaknya, sedangkan masyarakat alit (Wong Cilik) terpinggirkan menjadi objek yang terus-menerus dikorbankan oleh ketidakadilan dan ketidakmanusiawian kebijakan pembangunan.
Mereka selama ini jauh dari merasakan hidup berkecukupan pangan, apalagi masuk dalam ranah kesejahteraan sosial (social welfare).
Harapan Penulis agar para elite Blora lebih peduli pada kaum petani yang sebagian besar keluarga di Indonesia lebih diperhatikan. Sehingga apa yang digemborkan Bupati Blora menuju masyarakat Blora Sejahtera menjadi kenyataan.
(Penulis : Drs. Ec. Agung Budi Rustanto – Pimpinan redaksi Tabloid Infoku)
 klik gambar===>baca model TABLOID

INFOKU SEMARANG - GROBOGAN edisi 16

Tol Semarang-Solo Dioperasikan
INFOKU, SEMARANG - Jalan tol Semarang-Solo Sabtu (20/8) mulai dioperasikan, khususnya di ruas yang memang sudah selesai dibangun yaitu antara Semarang-Ungaran
Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo yang meresmikan penggunaannya, mengatakan, masih ada potensi kemacetan lalu lintas di titik keluar jalan tol Semarang-Solo di wilayah Ungaran, Kabupaten Semarang.
 “Saya minta kepolisian untuk membantu mengatur arus lalu lintas di sekitar titik keluar tol,” kata Gubernur. Ia menjelaskan, secara teknis terdapat tiga akses jalan yang bisa dilalui di titik keluar tol.
Menurut dia, kondisi tersebut tidak dapat dihindari, mengingat jalan tol ini seharusnya sampai ke Solo. “Jalan keluar ini hanya sementara, sampai jalan tol ini selesai sampai Solo,” katanya.
Bibit menuturkan, pada tahap awal pengoperasian jalan tol sepanjang 11 kilometer ini, hanya akan diperuntukkan bagi kendaraan berukuran kecil. Untuk kendaraan berat, lanjut dia, sementara belum diizinkan.
 “Bukan bermaksud melarang. Nanti kalau tol ini sudah selesai seluruhnya, pasti semua boleh melintas. Jalan tol ini kan dari Semarang ke Solo, bukan Ungaran,” katanya.
Selain itu, lanjut dia, para pengguna jalan tol ini untuk sementara akan digratiskan.
Ia menjelaskan, pengoperasian secara gratis ini dilakukan sementara, mulai 10 hari menjelang Lebaran hingga 10 hari sesudahnya.
“Setelah itu tetap harus membayar,” katanya. Ia menambahkan, pengoperasian ruas tol ini diharapkan mampu mengurangi kepadatan lalu lintas, terutama saat arus mudik dan balik Lebaran tahun ini.
Sementara itu, Kepala Dinas Bina Marga Jawa Tengah, Danang Atmodjo menambahkan, pengerjaan pemasangan boredpile di Km-17 ruas tol ini tidak akan mengganggu arus kendaraan yang melintas.
 “Sama seperti kalau ada perbaikan di tepi ruas tol, tidak akan sampai mengganggu,” katanya. Selain itu, lanjut dia, arus kendaraan yang melintas ruas tol ini juga belum sepadat jalan tol yang sudah beroperasi normal, mengingat masih ada pembatasan jens kendaraan yang melintas.(Tanti)


 Klik gambar ===>baca model TABLOID
Polres musnahkan 4.000 botol Miras
INFOKU,GROBOGAN- Polres Grobogan memusnahkan hasil Operasi Pekat 2011 yang digelar selama 21 hari.
Sebanyak 4.000 botol Miras berbagai merk, 378 liter arak dan 200.000 butir petasan hasil Ops Pekat dimusnahkan di halaman Mapolres setempat, Sabtu (20/8/2011).
Pemusnahan tersebut disaksikan langsung oleh Wakil Bupati Icek Baskoro SH jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FKPD) Grobogan dan jajaran perwira di Polres setempat.
Dengan menggunakan stoomwolles ribuan botol Miras dan arak digilas satu persatu setelah sebelumnya secara simbolis Kapolres Grobogan AKBP Y Ragil Heru S memecahkan botol Miras diikuti Wabup Icek Baskoro.
Menurut Kapolres AKBP Y Ragil, ribuan botol Miras, arak dan petasan tersebut merupakan hasil Operasi Pekat yang digelar oleh Polres dan jajaran Polsek sejak 26 Juli hingga 16 Agustus 2011. Dalam kegiatan ini, Polres juga melibatkan Satpol PP.
“Hasil operasi penyakit masyarakat (Pekat) selain Miras dan petasan juga memberantas praktik prostitusi. Namun kalau Miras dan petasan kita musnahkan, untuk pelaku prostitusi yakni delapan PSK kita bina atau tidak dimusnahkan, pak Wabup,” seloroh Kapolres kepada Wabup Icek Baskoro.
Kegiatan Ops Pekat tersebut, lanjut Kapolres,  merupakan upaya nyata jajaran Polres Grobogan untuk menciptakan situasi Kamtibmas yang aman, nyaman dan kondusif selama bulan Ramadan.
(Budi)

INFOKU REMBANG PATI edisi 16

Jalan Lingkar Selatan  Terancam diBlokade Warga
INFOKU, REMBANG - Warga Desa Weton, Kecamatan/Kabupaten Rembang mengeluhkan dampak debu akibat pengurukan lubang di jalan lingkar selatan (JLS) Kota Rembang. Akibat pengurukan lubang dengan batu putih, debu beterbangan setiap saat saat kendaran lewat di jalur itu.
Sejumlah warga bahkan mengancam akan memblokade jalan jika tak ada langkah nyata dari Pemkab untuk mengurangi dampak debu. Apalagi dalam waktu dekat ini jalur tersebut akan dimanfaatkan sebagai jalur alternatif saat tradisi Syawalan.
Cuaca terik membuat debu semakin menyesakkan dada warga yang tinggal tepat di pinggir jalan. Debu juga mengotori perumahan penduduk hingga pakaian yang dijemur warga pun kotor. 
"Kondisi ini sangat tidak nyaman. Kami khawatir kesehatan diri dan anak-anak kami terganggu," keluh Sartiman (45), warga setempat.
Menanggapi persoalan itu, Kabid Bina Marga pada Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Rembang Raharjo menyebutkan, pengurukan jalan dengan batu putih merupakan langkah darurat yang bisa dilakukan Pemkab, di tengah ketersediaan anggaran yang terbatas. Sebab, kerusakan di jalur itu dinilai sudah sangat parah.(Rudi)


Kondisi Jalan Tayu-Jepara Makin Rusak
INFOKU, PATI - Tidak hanya jalan alternatif utara Pati-Kudus yang kondisinya rusak, sebagian ruas Jalan Raya Tayu-Jepara yang merupakan jalur lintaskabupaten kondisinya juga bermasalah. Selain bergelombang, ruas jalan berlubang cukup parah.
Pengendara yang melintas harus hati-hati saat melintas di ruas jalan yang rusak. Mengingat di sejumlah titik kerusakan, hampir semua badan jalannya dipenuhi lubang.
Diperkirakan kerusakan tersebut telah lama. Lantaran tidak kunjung diperbaiki maka kondisinya semakin parah.
Sejumlah titik kerusakan di Jalan Raya Tayu-Jepara di antaranya turut Desa Sirahan, (depan SMP Pancasila), Payak, Ngawen, dan Ngablak. Semuanya berada dalam wilayah Kecamatan Cluwak.
Seorang pengendara, Marno mengaku, pernah hampir terjatuh saat melintasi ruas jalan yang rusak. Karena ruas yang berlubang cukup parah tidak hanya di satu titik, tetapi di banyak tempat.
”Jalan yang paling berbahaya adalah di tikungan curam antara Desa Payak dan Sirahan. Selain curam, kondisi jalannya rusak parah.
Di situ sering terjadi kecelakaan,” ujarnya minggu lalu.
Kondisi yang semakin membuat kurang nyaman pengendara adalah banyaknya ruas jalan bergelombang. Itu tidak hanya ditemui di sepanjang jalan yang masuk Kecamatan Cluwak, tetapi juga Tayu.
Uniknya, jalan bergelombang itu hanya berada pada sisi utara. Sehingga warga sekitar menduga kerusakan tersebut akibat banyaknya truk besar sarat muatan dari arah Jepara (barat).
Saking seringnya truk dengan beban berat melintas menjadikan sebagian sisi jalan yang dilewati ambles. Bahkan, sebagian sudah tampak berlubang dan jika tidak segera ditangani maka akan semakin melebar dan parah.
Beberapa tahun lalu, truk berukuran besar sarat muatan yang diduga dari PLTU Jepara yang melintas di ruas jalan tersebut dipersoalkan warga setempat. Namun truk tersebut bukannya mencari jalan lain, tetapi justru mengubah jam lewatnya.
Jika sebelum diprotes warga melintas pada siang hari, tetapi setelah itu berubah menjadi malam.
”Seharusnya kerusakan ini juga menjadi perhatian pemerintah menjelang Lebaran. Karena jalur Jepara sampai Pati ini tidak kalah padat lalu lintasnya saat Lebaran,” harap warga Payak, Sukari.
Kerusakan jalan cukup parah yang sejauh ini belum tertangani di jalur tersebut adalah ruas Jalan Lingkar Tayu.
Di kawasan ini kerusakan jalan disebabkan beroperasinya truk berukuran besar pengangkut batu alam dari lokasi tambang ke pengepul maupun dari perusahaan pemecah batu menuju Pati kota.(Amir)

Senin, 29 Agustus 2011

TERBARU - edisi 16

TOPIK UTAMA - Infoku edisi 15

TOPIK
Hentikan Tarikan Sumbangan Sekolah
“Pakai Hati untuk Tentukan Sumbangan Sekolah” Kokok
INFOKU, BLORA- Keadaan ekonomi Blora yang saat ini boleh dibilang berat dikalangan masyarakat ternyata membuat kegerahan Bupati Blora Djoko Nugroho (Kokok-red).
Hal ini terkait banyaknya berbagai tarikan atau sumbangan apapun namanya dilingkungan pendidikan kabupaten Blora kepada orang tua murid yang baru masuk sekolah.
Hal itu terlihat saat temu Bupati dan Insan Pers diruang VIP Pendopo rumah dinasnya Akhir bulan Juli lalu.
Bupati saat itu berharap agar segala macam bentuk yang mengatasnamakan sumbangan pendidikan harap dihentikan.
“Saya berharap segala macam sumbangan sekolah untuk sekolah dihentikan sementara terlebih dulu,” kata Kokok panggilan akrab Bupati Blora ini.
Alasan bupati yakni disamping perekonomian Blora dalam keadaan lesu, juga tarikan yang dilakukan sekolah belum sesuai Perbup yang telah dia tanda tangani beberapa waktu lalu.
Bahkan dia meminta para kepala sekolah dan komite menggunakan hati bila memutuskan segala sesuatu bentuk sumbangan.
Artinya jangan mengambil celah setiap aturan yang dibuatnya untuk menghalalkan segala sesuatu yang bias disiasati.
 “Gunakan hati nurani untuk putuskan sesuatu sumbangan, jangan mengambil celah dalam mensiasati aturan yang saya buat,” tegas Bupati.
Bagaimana terkait visi dan misinya di bidang pendidikan, Bupati Blora ke 27 ini dengan tegas mengatakan secara bertahap dia akan memenuhinya.
“Secara bertahap awal tahun ajaran ini yang merupakan tahun pertama pemerintahan saya, akan ditekan biaya sekolah agar murah dan terjangkau,” jelasnya.
Saat ditanya berapa idealnya Sumbangan Pengembangan Institusi (SPI) dia mengatakan idealnya untuk RSBI maksimal Rp. 1,5 juta sedang untuk sekolah non RSBI maksimal Rp. 500 ribu.
Disamping itu Dia juga sudah mengganggarkan kurang lebih Rp. 12 Milyar di tahun 2012 nantinya, guna pendidikan gratis ditiap jenjang pendidikan non RSBI, berdampingan dengan BOS yang selama ini didapat ditiap sekolah.
 “Tahun 2012 nanti. sudah kita anggarkan khusus untuk subsidi biaya sekolah kurang lebih Rp. 12 Milyar, sehingga sekolah gratis di seluruh Blora dapat segera tercapai,” tandas Bupati Djoko Nugroho.
 Terpisah beberapa Masyarakat menyambut baik apa yang saat ini diputuskan Bupati. Seperti Sutarno orang tua siswa yang anaknya sekolah di SMAN 1 Tunjungan sangat setuju apa yang tetapkan oleh Bupati.
“Kalau itu benar dilaksanakan pada tahun ajaran ini, berarti menambah keyakinan masyarakat bahwa ini merupakan langkah awal menuju memenuhi janjinya sekolah gratis,” kata Sutarno waga Blora kota ini. (Agung)


Topik Samping
Slamet Pamudji (Kadisdikpora Blora)
Segala Bentuk Sumbangan Sekolah Dihentikan
INFOKU, BLORA- memang merupakan tugas yang berat untuk merubah sistem, yang sudah mengakar kuat selama bertahun-tahun. Hal itu diungkapkan Slamet Pamudji Kadisdikpora terkait maraknya perbincangan sumbangan sekolah yang sangat meresahkan masyarakat.
“Untuk menindak-lanjuti instruksi Bupati maka saya harap sekolah untuk menghentikan sumbangan atau apapun namanya. Untuk ditata kembali sesuai mekanisme yang ada,” Kata Mumuk panggilan akrab kadisdikpora Blora ini.
Sebagai langkah selanjutnya, disdikpora akan membuat mekanisme penarikan sumbangan dan penggunaan anggaran dari sumbangan tersebut.
“Nantinya sekolah disamping membuat Laporan penerimaan sumbangan, juga wajib membuat LPD (Laporan Penggunaan Dana), kemudian diajukan ke Bupati melalui Disdikpora,” jelasnya.
Lanjut Mumuk, setelah direkomendasi Bupati maka sekolah baru bias mengadakan rapat pleno komite sekolah yang dihadiri orang tua murid.
“Pada acara inilah pak Bupati minta supaya dirinya diundang untuk hadir pada rapat komite ini,” tambah Mumuk.(Agung)


H Sarmadi (Kepala Sekolah SMPN 6 Blora)
Kepala Sekolah Introspeksi dulu
INFOKU, BLORA- Mungkin SMPN 6 Blora satu-satunya sekolah yang belum menarik Sumbangan Pengembangan Institusi (SPI-Uang Gedung istilah lama-red), dari ratusan sekolah yang ada di Blora.
Bahkan uang seragam siswa yang sudah dipakai siswa hampir satu bulan ini, baru sekitar 60 persen yang sudah dibayar.
“Saya belum berpikir kearah uang sumbangan karena sudah diatur oleh perbup yang lalu, disamping itu instrospeksi diri terhadap dinamika kehidupan masyarakat Blora,” kata H Sarmadi Kepala SMPN 6 Blora Kamis (4/8) diruang kerjanya.
Ketika ditanya kisaran uang sumbangan yang akan diajukan ke disdikpora, Sarmadi belum bisa menjawab.
“Sampai saat ini memang kami belum mengajukan anggaran ke dinas, karena masih menunggu Jutlak dan Juknis yang masih digarap disdikpora untuk diajukan ke Bupati,” tegas Sarmadi.(Agung)
 klik gambar===>baca model TABLOID