Minggu, 28 Agustus 2011

ANEKA - INFOKU edisi 15

Mengais Rejeki Di Bulan Ramadhan
INFOKU, CEPU – Tradisi awal bulan Ramadhan, yang sudah bertahun tahun ternyata masih tetap ada di cepu.
Puluhan pedagang musiman di Cepu kembali menjamur. Pedagang dadakan ini menempati lokasi di taman serba guna Tuk Buntung.
Pada tahun lalu mereka menempati sepanjang jalan Rongglawe, depan Kecamatan Cepu.
Beberapa pedagang yang ditemui INFOKU mengatakan, menu-menu yang ia jual khusus untuk berbuka puasa. Ada es kopyor, kolak, hingga sayur dan lauk pauk.
Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya,  Dengan meja berukuran lebar 1 meter dan panjang 2 meter ini, setiap memasuki bulan puasa saya jualan di sekitar disepanjang jalan Ronggolawe.
“Tapi sekarang dialihkan di Taman serba guna Tuk buntung ini," katanya diamini 3 pedagang lainnya Rabu (3/8).
Mereka rata-rata mengaku, makanan yang dijualnya semuanya masakan sendiri. Hanya ada beberapa  jenis makanan saja merupakan titipan tetangga.
"Ada yang nitip ikan, sayur. Ya saya gak keberatan. Kan sama-sama cari rejeki," ujarnya sambil tersenyum.
Harganyapun bervariasi mulai Rp 1.000 hingga Rp 6.000. Sehingga dengan harga tersebut masyarakat mulai bawah dan atas bias menjangkaunya.
Seperti Sayur ada yang Rp 1500, ada yang Rp 2000 sedang Lauk seperti sambal ayam sama lalapan Rp 6000. kolak Rp 1000.(Agustina)
klik gambar===>baca model TABLOID

Sabtu, 27 Agustus 2011

INFOKU REMBANG PATI - KECAMATAN edisi 15

Pedagang pertanyakan kekuatan Los Darurat
INFOKU, REMBANG – Para pedagang korban kebakaran dua los Pasar Pamotan menghawatirkan kekuatan konstruksi bangunan los pasar darurat yang mulai dibangun sepekan terakhir.
Juremi (42), pedagang Pasar Pamotan, salah seorang korban kebakaran mengungkapkan, kekhawatiran tersebut memang santer terdengar belakangan ini.
Bangunan pasar darurat yang dibangun dari rangka kayu sepanjang 24 meter dengan lebar 9,3 meter itu tanpa disangga kayu di bagian tengahnya. Dikhawatirkan jika ada angin kencang atau hujan lebat, bangunan tersebut rawan ambruk.
Dia juga mengungkapkan, pedagang hanya bisa pasrah dan tak berani memprotes lantaran ingin segera memiliki tempat berdagang menjelang Lebaran mendatang. Sebagai solusi, pihaknya kemungkinan besar akan menambahi kayu penyangga khusus di tempat berdagang.
''Saya merencanakan untuk menambahi sendiri tiang penyangga. Hanya, kemungkinan besar tak semua pedagang mampu membeli kayu untuk penyanga serupa,'' tuturnya, Senin (1/8).
Ditempat terpisah, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UMKM (Disperindakop dan UMKM) Rembang Waluyo lewat Kepala Bidang Bina Pasar Waras menandaskan, pedagang tak perlu mengkhawatirkan konstruksi bangunan los karena memang belum jadi sepenuhnya.
Selain menggunakan kayu berukuran besar, konstruksi atap juga akan diperkuat kuda-kuda tambahan pada setiap jarak enam meter. (Arti)


23 Pasangan Terjaring Operasi
INFOKU, PATI – Terhitung selama dua hari berturut-turut, mulai Jumat (29/7) lalu hingga Sabtu (30/7), jajaran aparat berwenang di Pati melancarkan operasi penyakit masyarakat (pekat).
Tak kurang 23 pasangan selingkuh di hotel terjaring operasi itu secara terpisah, di salah satu hotel di Tayu yang terletak di pinggir jalan raya Tayu-Dukuhseti dan satu hotel dalam Kota Pati.
Di hotel dalam kota, operasi pekat dilakukan Sabtu kemarin oleh gabungan Satpol PP dan TNI, berhasil menjaring delapan pasangan selingkuh.
Sebanyak 15 pasangan selingkuh pada pukul 10.00 itu terjaring, karena tengah berada di dalam kamar hotel, di pinggir jalan raya Tayu-Dukuhseti. Tepatnya, di Desa Luwang,
Kecamatan Tayu, Pati, dan satu di antara pasangan selingkuh itu ternyata seorang mahasiswa sebuah sekolah tinggi di Kudus.
Kapolres Pati AKBP Bernard Sibarani, mengatakan terungkapnya pasangan mahasiswa satu kampus asal Tayu dan Rembang yang tengah berduaan di dalam kamar hotel itu, membuat pihaknya benar-benar prihatin.
Karena itu, kata dia, setelah didata identitas masing-masing, mereka juga diberi pengarahan dan baru dipulangkan sore hari.
Hal sama juga dikemukakan Kepala Seksi (Kasi) Operasi dan Ketertiban Kantor Satpol PP kabupaten Pati, Joko Santoso.
Berkait upaya menciptakan ketertiban di Pati menjelang Puasa Ramadan, maka operasi pekat akan digelar secara terus menerus. (Amir)
 klik gambar===>baca model TABLOID

INFOKU SEMARANG RAYA - edisi 15

Pemkab Grobogan Jamin Bebas ”titipan” Rekrut TK
INFOKU, GROBOGAN-   Proses perekrutan tenaga kontrak oleh pihak ketiga dimulai. Salah satu satuan kerja perangkat daerah (SKPD) yang mulai melaksanakan perekrutan yakni Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) Pemkab Grobogan.
Tes seleksi tenaga kontrak untuk DPPKAD diserahkan sepenuhnya kepada perusahaan pengerah tenaga kerja PT Em Es Ha Dua Ribu Semarang, dilangsungkan di aula Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Grobogan, Selasa (2/8), diikuti 46 peserta.
Kepala DPPKAD Grobogan, Dr Ir H Sumarsono, kepada Wartawan menjelaskan dinasnya membutuhkan 75 tenaga kontrak. Ketika ditanya mengenai kabar adanya “titipan” dari pihak tertentu dalam proses perekrutan tenaga kontrak, Sumarsono menegaskan tidak ada titip-titipan.
Hal senada disampaikan Direktur PT Es Em Ha Dua Ribu Semarang, Lies Vonneke, saat pelaksanaan tes di aula Disnakkan.
“Tidak ada titipan, pokoknya benar-benar fair, 46 peserta semuanya mengikuti tes dengan materi ujian pengetahuan umum yang akan menggambarkan karakter peserta.” Katanya.
Dari 46 peserta lulusan SMA dan D3 tersebut, lanjutnya, hanya dibutuhkan 20 orang sebagai operator komputer dan 22 orang untuk penarik retribusi.
“Jumlah tenaga kontrak yang kami rekrut bisa bertambah sesuai permintaan DPPKAD, jika hasil tes ini tidak mencukupi kebutuhan 42 tenaga kontrak untuk dua bidang tadi.” Jelasnya.
Vonneke menambahkan hasil tes akan diumumkan pada Rabu (3/8) ini melalui telepon atau SMS ke masing-masing peserta.
“Setelah pengumuman, kami akan sosialisasikan hak dan kewajiban para tenaga kontrak, termasuk besaran gaji yang akan mereka terima setiap bulan. Diharapkan Senin (8/8) pekan depan yang lolos seleksi langsung dipekerjakan,” tambah Vonneke.(Budi)
 klik gambar ===> baca model TABLOID

Rabu, 17 Agustus 2011

INFOKU 15 - Lensa Digital - Advertorial

Laju Modernisasi kontra Generasi Pembelajaran
Di alam modernitas saat ini, generasi bangsa semakin tersudutkan. Pelbagai perubahan yang merupakan konsekuensi dari modernitas melaju lebih cepat melampaui gerak para generasi kita.
Generasi bangsa seakan selalu tertinggal, hingga tertatih-tatih untuk mengejar perubahan itu.
Ketertinggalan ini disebabkan kedangkalan berpikir dalam merespons setiap gerak modernitas. Kita masih gemar bernostalgia dan puas dengan kondisi ketertinggalan. Padahal semakin kita diam, semakin kita jauh tertinggal. Kiranya cukup mendesak untuk memikirkan bagaimana nasib anak bangsa melihat perubahan arus modernitas yang kian merepotkan.
Arus modernitas yang selalu mengandaikan pada kemajuan seharusnya menjadi spirit para pemuda (generasi bangsa) untuk memberikan umpan balik terhadap gerak perubahan.
Di samping itu, ruang kompetisi yang amat merepotkan seperti saat ini sudah saatnya disikapi secara tegas. Jika tidak, kita akan mudah terjebak pada ruang kompetisi yang membahayakan. Ruang kompetisi di alam modernitas selalu berputar pada dua pilihan: menang atau kalah.
Logika “menang dan kalah” yang menjadi spiritualitas gaya modernitas memaksa para generasi kita untuk berpacu, berebut dan bahkan bertengkar untuk menjadi terdepan, terhebat dan pemenang. Sedangkan yang kalah selalu mendapatkan citra negatif dari kebanyakan masyarakat karena gagal melewati arena kompetisi.
Perubahan yang dibawa arus modernitas menimbulkan kekhawatiran akan pudarnya kepribadian bangsa. Modernitas yang mula-mula berangkat dari paradigma Barat dianggap telah melucuti karakter anak bangsa. Oleh beberapa kelompok, modernitas dinilai sebagai virus yang membahayakan yang menyebabkan krisis moral dan mental generasi bangsa. Anggapan bahwa laju modernitas sama halnya mengonsumsi budaya Barat yang sarat dengan nuansa hegemonik telah menyebabkan kekhawatiran dalam melakukan inovasi-kreatif.
Hal ini patut disadari. Pemahaman akan tergerusnya moral bangsa karena modernitas banyak dipengaruhi oleh pemahaman westernisasi. Apa yang menjadi perubahan saat ini dianggap melulu berasal dari pola yang dikendalikan Barat. Kenyataan ini sebenarnya sudah ditegaskan oleh Nurcholis Majid bahwa modernisasi bukan westernisasi, melainkan rasionalisasi.
Modernitas merupakan kenyataan historis yang harus diterima dan disikapi dengan pemikiran maju. Dan, geliat modernitas menawari kita untuk berpikir yang lebih rasioanal dan dinamis, sehingga kita tidak mudah menjadi bangsa yang tertinggal.
Cepatnya laju modernitas seperti saat ini menuntut kita untuk mengembangkan daya kreatif guna menjawab tantangan ini. Perkembangan dan perubahan akibat modernisasi menuntut kita untuk berpikir maju dengan mengedepankan rasionalitas (bukan rasionalisme) dan berupaya melakukan pembaruan-pembaruan yang positif.
Dalam hal ini, Nurcholis (1982; 454) mengemukakan permasalahan yang perlu dipecahkan dalam kehidupan modern bukan terutama apa yang sering dikemukakan orang sebagai kemunduran kepribadian bangsa karena secara moral menjadi lunak akibat modernisasi, melainkan “usaha menanggulangi kehidupan dalam ukuran dan skala cepat, berkembang dan mengatasi kompleksitas besar pola-pola sosial, ekonomi dan politik.”
Dinamika
Kenyataan modernitas telah menciptakan ruang di mana anak bangsa dipacu untuk menghadapi setiap perubahan. Dinamika sosial, ekonomi, politik dan budaya di alam modernitas ini berubah secara cepat, dan menuntut kita untuk mencermati segala kemungkinan yang ditimbulkan. Para generasi muda semestinya bergerak secara cepat pula untuk memberikan umpan balik terhadap geliat modernitas tersebut.
Konsekuensi dari modernitas ini menuntut kita untuk berpikir ganda. Pertama, memikirkan strategi dan cara membentengi diri untuk tetap berdiri dengan karakter yang dimiliki agar tidak mudah terseret gelombang modernitas yang terkadang melampui akal sehat. Kedua, berpikir bagaimana mengembangkan segala kreativitas dan kemampuan inovasi para generasi muda untuk menjawab tantangan modernitas itu sendiri, sekaligus untuk melatih kemandirian anak bangsa.
Kedua hal tersebut harus menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi kita semua, khususnya para generasi muda. Dalam hal ini kiranya perlu menjadikan generasi bangsa sebagai generasi pembelajar. Mencetak generasi pembelajar merupakan hal yang mendesak untuk menjawab tantangan kekinian (gelombang modernitas).
Generasi pembelajar sebenarnya mengajak para generasi muda untuk senantiasa mengungkap kesadaran akan jati diri untuk tidak terombang-ambing oleh pelbagai dinamika kehidupan, terutama di zaman seperti saat ini. Generasi pembelajar dalam pengertian ini, sebagaimana diungkapkan oleh Andreas Harefa (2004;30-31), merujuk pada tanggung jawab setiap manusia untuk melakukan dua hal penting, yakni: pertama, senantiasa berusaha mengenali hakikat diri, potensi dan bakat-bakat terbaik dan berusaha mencari jawaban yang lebih baik tentang beberapa pertanyaan eksistensial.
Kedua, generasi pembelajar senantiasa berusaha sekuat tenaga untuk mengaktualisasikan segenap potensi, mengekspresikan dan menyatakan diri dengan sepenuhnya dengan cara menjadi dirinya sendiri dan menolak untuk dibanding-bandingkan dengan segala sesuatu yang bukan dirinya.
Kedua hal penting ini harus menjadi kesadaran generasi muda agar tidak berhenti pada sikap mengikuti “arus ke mana pun berarah”. Sebagai pembelajar, generasi bangsa akan semakin tegas dan jelas dalam menghadapi setiap elan perubahan. Setiap perubahan harus disikapi dengan kemandirian. Setiap perubahan hanyalah dipahami sebagai bahan pelajaran dalam menentukan sikap sesuai dengan kondisi lokal dan karakter bangsa.
Kita harus menyadari bangsa yang cerdas dan berkarakter adalah ketika para generasi mudanya mampu mengungkap kesadaran akan hakikat diri dan kemampuan untuk mengaktualisasikan diri sebagai bagian dari proses pengejawantahan karakter kebangsaan. Kemampuan untuk mengaktualisasikan diri ini juga menjadi kunci proses pemberdayaan mental dan kreativitas.
Ketika ruang aktualisasi diri ini tidak dibuka selebar-lebarnya, terjadilah pembekuan daya kreatif dan penolakan terhadap kemandirian anak bangsa. Melihat laju moderitas yang memberikan banyak tantangan, sudah saatnya kita menampilkan sosok generasi pembelajar, yaitu generasi yang mampu membaca perubahan dan berusaha mengembangkan segenap potensi dan bakat terbaiknya. Jawaban atas tantangan modernitas ini adalah terbentuknya generasi muda sebagai generasi pembelajar. (Penulis: Drs Ec. Agung Budi Rustanto, Pimpinan Redaksi Tabloid INFOKU)


Sabtu, 06 Agustus 2011

INFOKU 14 - TOPIK UTAMA

Subsidi Pendidikan dari Blok Cepu ?
INFOKU, BLORA- Ditahun pertama suatu pemerintahan seseorang dimanapun berada, tentunya tidak akan dapat merealisasikan apa yang menjadi keinginan para pemimpin tersebut.
Demikian Juga di Kabupaten Blora, Pemerintahan Bupati Djoko Nugroho yang boleh dikata baru seumur jagung, maka untuk mewujudkan Visi dan Misinya harus bertahap.
Hal itu diungkapkan Tejo Prabowo Ketua LSM Jati Bumi saat ditemui di sekretariatnya.
Menurut Tejo saat ini memang ramainya orang tua mensekolahkan anaknya ke jenjang lebih tinggi, mereka banyak yang mengeluh biaya mahal dan diakaitkan Visi dan Misi Bupati di bidang pendidikan.
“Ya jelas belum bisa terwujud ditahun pertama pemerintahan pak Kokok, tapi saya yakin tahun kedepan Beliau bisa mewujudkan,” kata Tejo.
Alasan Tejo mengatakan itu dikarena Bupati saat ini sedang gencar mencari terobosan pendapatan dari SDA yang ada di Blora.
Terutama Perminyakan, baik terkait Dana bagi hasil Migas ataupun Menjadikan Sumur minyak Tua sebagai asset daerah.
“Inilah yang nantinya merupakan penyumbang PAD terbesar untuk Blora dan saya optimis lebih dari 25 persen akan digunakan kesubsidi pendidikan Blora,” tandas Tejo.
Sementara Bupati Djoko Nugroho Di berbagai kesempatan menyatakan, meski ribuan bahkan jutaan barrel migas disedot dari bumi Blora, namun dana bagi hasil (DBH) yang diberikan pemerintah pusat tidak banyak.
Ironisnya meski Blora masuk kawasan Blok Cepu, namun tidak mendapatkan DBH migas yang diambil dari wilayah tersebut.
Pangkal, mengapa Blora tidak mendapatkan DBH migas Blok Cepu, karena persoalan peraturan perundang-undangan.
Penghitungan DBH migas, antara lain didasarkan pada mulut sumur di mana migas tersebut ditambang. Kabupaten dan kota yang berada satu provinsi dengan kawasan penambangan migas mendapatkan bagian DBH.
”Karena itu Bondowoso, Jawa Timut dapat DBH Blok Cepu. Sementara Blora yang berada di Provinsi Jateng tidak mendapatkannya, padahal Blora masuk kawasan Blok Cepu. Sementara Bondowoso letaknya jauh dari Blok Cepu,” kata bupati.
Tahun 2010, Blora mendapatkan DBH migas sebesar Rp 1,93 miliar. Sementara pada 2009 hanya Rp  881,2 juta. DBH tersebut diperoleh dari penambangan migas di luar Blok Cepu. Karena itu Pemkab Blora mendesak pemerintah mengubah peraturan yang mengatur DBH.
Sumur Tua
Seiring dibukanya kran pengusahaan sumur tua bagi BUMD dan KUD, Pemkab Blora pun merespon dengan antusias. Apalagi jumlah sumur tua di Blora diperkirakan mencapai ratusan bahkan ribuan.
Diharapkan dari pengelolaan sumur peninggalan Belanda tersebut, pendapatan asli daerah (PAD) Blora bisa bertambah dan terpenting lagi kesejahteraan masyarakat bakal meningkat.
Untuk itulah Bupati Blora ke 27 ini berusaha mendapatkan seluruh kekayaan alam yang ada di Blora yang dikelola pihak ketiga, untuk diambil alih Pemkab Blora. Seperti 132 Sumur Minyak Tua yang dikelola Koperasi Karyawan Pertamina Patra Karya (Kokapraya).
Seperti diketahu Izin pengelolaan sejumlah sumur tua telah dikantongi BUMD dan KUD di Blora. Sementara kontrak pengelolaan 132 sumur tua minyak oleh Koperasi Karyawan Pertamina Patra Karya (Kokapraya) akan berakhir Desember 2011.(Agung)



Haryono SD (mantan Wakil Ketua DPRD Blora)
Sering Pantau Penambang Minyak Tradisionil
INFOKU, BLORA- Selama ini warga menambang minyak di sumur tua dengan cara tradisional, namun tetap dengan menggunakan bantuan mesin generator atau diesel. Buang jauh bayangan adanya berbagai peralatan berat dengan truk-truk tangki yang hilir-mudik di areal penambangan minyak di sumur tua.
Hal itu diceritakan Haryono SD mantan Wakil ketua DPRD saat dimintai keterangan terkait sumur minyak tua.
“Sewaktu dinas dulu saya sering kelapangan meninjau berbagai tambang tradisionil,” katanya.
Menurut Haryono yang juga ketua Penasehat FKPPI Kabupaten Blora ini, untuk mengeluarkan minyak mentah dari perut bumi, sejumlah penambang memakai semacam timba terbuat dari pipa besi sepanjang lima meter dengan diameter 20 centimeter.
Timba pipa besi itu dimasukan dalam sumur kemudian diulur dan ditarik dengan tali baja sepanjang puluhan meter. Tali baja digulung memakai generator bekas mesin truk yang telah dimodifikasi.
Minyak mentah yang diperoleh selanjutnya ditampung di bak yang tak jauh dari sumur, untuk diendapkan
“Pemisahan minyak mentah dengan material lainnya itu pun secara sederhana. Minyak mentah mengambang ke permukaan, sementara air di bagian bawahnya,” Cerita Haryono.
Saat ditanya kaitan dengan PAD dengan sumur tua maupun hasil migas lainya, Dia mengatakan sangat signifikan.
Artinya bila nantinya Bupati dapat memaksimalkan pengelolaan sumur tua baik Ijin pengelolaan atupun yang lain berkaitan dengan Migas, secara otomatis PAD akan meningkat spektakuler.
“Nantinya Migas merupakan penyangga terbesar bagi PAD kabupaten Blora, dari inilah yang dapat mewujudkan visi dan Misi Bupati kedepan,” tambah Haryono.(Agung)
klik gambar===>baca model TABLOID